CLIXSENSE

KLIK AJA DECH

Klikblogger

Selasa, 10 Januari 2012

10 Mitos Tentang Penyakit Mata



Banyak mitos menyesatkan tentang penyakit mata yang tak jarang menjerumuskan pasien. Mengobati sendiri penyakit mata tak selalu aman dan perlu diwaspadai, karena tidak semua kelainan dan penyakit mata sama obatnya. Mari kita simak:

1. Mata merah disebabkan oleh debu
Tidak selalu benar. Lebih sering mata merah disebabkan oleh bibit penyakit. Kita mencurigai mata merah sebagai infeksi jika terjadi dalam musim-musim tertentu dimana banyak orang yang terkena mata merah. Bisajuga mata merah disebabkan oleh debu. Debu, pasir, kotoran, sabun mandi, dapat menimbulkan mata merah. Namun perlu dibedakan dengan mata merah sebab infeksi. Pada mata merah infeksi, selain gatal, rasa tidak enak mengganjal seperti ada pasir, banyak mengeluarkan airmata, dan merahnya mata semakin hari semakin bertambah.

Mungkin disertai pembengkakan kelopak mata, dan waktu bangun tidur mata rapat, banyak kotoran mata (belekan). Mata merah sebab debu biasanya tidak belekan, jarang membengkak, dan merahnya semakin hari cenderung semakin pudar dan bisa mereda sendiri. Mata merah infeksi sukar menyembuh sendiri tanpa obat. Penyakit infeksi mata bisa saja tidak harus menimbulkan mata merah. Orang-orang menyebutnya penyakit infeksi mata putih. Yang merah bagian dalam kelopak matanya (conjunctiva palpebra), bukan putih matanya. Penyebabnya juga infeksi bibit pernyakit, mulai dari virus, kuman, sampai jamur. jadi sudah terjadi wabah mata merah di suatu kota atau wilayah. Namun, bisa

5 Jenis Burung Yang Unik


1. Resplendent Quetzal
burung ini ditemukan di Meksiko dan wilayah Panama barat. burung ini panjangnya hanya belasan inci dan ditambah 25 inci untuk ekor pada burung laki- laki. Mereka mempunyai berat sekitar tujuh ons. Mereka memiliki kepala berbentuk bulat dan berbagai macam warna.
 

Ada Piramida Raksasa Dibawah Segitiga Bermuda


Belum lama ini, beberapa ilmuwan Amerika, Perancis dan negara lainnya pada saat melakukan survey di area dasar laut Segitiga Bermuda, Samudera Atlantik, menemukan sebuah piramida berdiri tegak di dasar laut yang tak pernah diketahui orang, berada dibawah ombak yang menggelora! Panjang sisi dasar piramida ini mencapai 300 meter, tingginya 200 meter, dan jarak ujung piramida ini dari permukaan laut sekitar 100 meter.

Jika bicara tentang ukuran, piramida ini lebih besar skalanya dibandingkan dengan piramida Mesir kuno yang ada di darat. Di atas piramida terdapat dua buah lubang yang sangat besar, air laut dengan kecepatan tinggi melalui kedua lubang ini, dan oleh karena itu menggulung ombak yang mengamuk dengan membentuk pusaran raksasa yang membuat perairan disekitar ini menimbulkan ombak yang dahsyat menggelora dan halimun pada permukaan laut. Penemuan terbaru ini membuat para ilmuwan takjub.

Bagaimanakah orang dulu membangun piramida dan hidup didasar laut dengan lautnya yang gemuruh menggelora? Ada beberapa ilmuwan Barat yang berpendapat bahwa Piramida di dasar laut ini mungkin awalnya dibuat diatas daratan, lalu terjadi gempa bumi yang dahsyat, dan tenggelam ke dasar laut seiring dengan perubahan di darat. Ilmuwan lainnya berpendapat bahwa beberapa ratus tahun yang silam perairan di area Segitiga Bermuda mungkin pernah sebagai salah satu landasan aktivitas bangsa Atlantis, dan Piramida di dasar laut tersebut mungkin sebuah gudang pemasokan mereka.

Inilah si Kaya dan si Miskin


Sering kita terucap seperti ini, KITA SUSAH, MASIH ADA LAGI YANG LEBIH SUSAH DARI KITA, tapi kita hanya terucap tanpa bisa membayangkan segimana susahnya orang lain, dan mungkin berikut ini sebagai contoh yang pernah terlintas di bibir kita, dengan demikian hargailah hidup kita yang lebih mencukupi dari mereka2 ini, mereka adalah korban-korban politik yang tak berdosa di negaranya:

yeeta.com

Melihat Perubahan Iklim dari Puncak Jaya


Puncak Jaya: Dok. Zadrak Herman
 
Kisah seorang peneliti Belanda Jan Cartensz, tahun 1623 mengejutkan orang-orang Eropa. Bahwa ia melihat gletser dan salju di sebuah puncak gunung Papua yang terletak pada garis Khatulistiwa. Nama Cartensz pun di abadikan sebagai nama puncak ini. Namun kini setelah 387 tahun, gletser Puncak Jaya itu bakal sirna 4-5 tahun lagi, karena perubahan iklim yang sangat ekstrem sejak tahun 1970an. Perubahan iklim sejak tahun 1970 an ini tidak hanya menyusutkan gletser di puncak jaya tapi juga di zona-zona lain.

Kisah hampir serupa juga datang dari glacilog Lonnie Thompson asal Ohio University, Amerika Serikat. Pertengahn Juni 2010 ia memimpin proyek penelitian pengeboran inti es Papua 2010 yang dilakukan atas kerja sama Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dengan Byrd Polar Research Center (BPRC) The Ohio State University, beranggotakan sejumlah peneliti dari Amerika Serikat, Rusia, Prancis dan Indonesia.